Mengapa Perlu Berorganisasi di Kampus

Kampus merupakan tempat bagi mahasiswa menuntut ilmu. Di dalamnya mahasiswa mendapat banyak pembelajaran dan pengalaman suatu hal yang baru. Betapa tidak, kampus menyediakan banyak sarana dan prasarana bagi para mahasiswanya untuk mendalami suatu ilmu pengetahuan maupun minat bakat secara khusus.

Kampus juga menjadi ajang aktualisasi serta pelayanan. Maka tak heran, mahasiswa sering disebut sebagai kaum terdidik, cerdas, memiliki berbagai keterampilan dan bervisi masa depan. Bahkan, dituntut kiprah dan peran positifnya di tengah kehidupan bermasyarakat. Hingga disimbolkan sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan.

Tentunya selain menuntut ilmu dan mengejar Indeks Prestasi (IP), mahasiswa juga perlu memiliki “nilai plus” untuk menjadikannya kaya dalam setiap hal. Karena tuntutan karir dan dunia kerja kini lebih berpihak pada lulusan yang memiliki kemampuan lebih dan pengalaman dalam berorganisasi. Oleh karenanya, bukan zamannya lagi mahasiswa itu identik dengan K3, alias kuliah, kos, dan kantin. Melainkan menjadi aktivis kampus dengan bergabung dan aktif dalam organisasi, baik internal maupun eksternal kampus.

Dalam dunia kerja, banyak perusahaan yang lebih mengutamakan calon karyawan dari lulusan yang memiliki riwayat organisasi. Alasannya memiliki manajemen waktu, keterampilan interpersonal, serta problem solving yang lebih baik jika dibandingkan dengan yang tidak memiliki pengalaman organisasi. Karena mereka lebih terlatih dalam mengelola tugas yang banyak dan menetapkan prioritas penyelesaiannya. Mereka tidak canggung lagi dengan tuntutan budaya kerja kantor. Dan tentunya mereka telah terbiasa berinteraksi dengan orang dengan berbagai karakteristiknya, sehingga lebih siap menjadi pemecahan solusi ketika terjadi konflik dalam perusahaan.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang memiliki pengalaman berorganisasi waktu di kuliahnya, lebih terlatih jiwa kepemimpinannya, lebih terasah kemampuan sosialnya dan tentu jaringannya lebih luas. Mereka dipandang lebih memiliki inisiatif dan dapat memotivasi serta mengarahkan diri sendiri juga rekannya dalam bekerja. Secara kemampuan dan kepekaan sosial juga lebih aktif. Terutama memiliki akses jaringan luas yang akan menjadi modal utama meraih sukses yang diinginkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aktif di organisasi mahasiswa berperan penting sebagai ajang latihan dunia kerja yang sesungguhnya serta menjadi bekal dalam meraih cita-cita dalam hidupnya. Hal ini didasarkan karena bangku perkuliahan selama ini tidak banyak mengajari kemampuan-kemampuan yang tergolong soft skills seperti itu.

Maka pilihan itu kembali pada setiap mahasiswa, akan tetap memilih menjadi mahasiswa biasa atau sebaliknya, menjadi “mahasiswa plus” yang lebih menjanjikan banyak manfaatnya. Ada pepatah mengatakan, bangsa besar terlahir dari orang dan cita-citanya yang besar. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi mahasiswa untuk mengambil peran penting di dalamnya. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh mahasiswa terhadap kemajuan bangsa Indonesia ini. Tentunya diawali dengan semangat memajukan diri dan belajar banyak hal sewaktu duduk di bangku kampus.

 

Artikel ini di kutip dari : http://www.andriewongso.com/artikel/campus_corner/4479/Mengapa_Perlu_Berorganisasi_di_Kampus/

Dapat apa di Organisasi !!!

Di suatu waktu orang pernah bertanya padaku “Apa yang kamu dapat setelah kamu melakukan banyak hal tapi orang tak pernah mengerti jalan pikirranmu??”

dan aku ber kata ” aku melakukan banyak hal agar orang lain pula dapat mengerti aku, kadang memang orang lain tak pernah tahu jalan pikiranku tapi tak mengapa meskipun aku kerja keras yang penting aku menata yang ada dalam diriku untuk merubah apa yang di luar diriku”.

Terkadang kita lebih menata diri untuk dilihat orang lain tapi tak pernah melihat apa yang dibutuhkan dirinya sendiri, orang bilang itu penting ini penting itu baik tapi itu salah, bukankah awal dari semuanya berawal dari kita sendiri bukan orang lain.

Di sebuah organisasi itu semua terasa sekali, terkadang kita kerja, mengkonsep dan menjalankan terasa sendiri, bagi orang yang tahu organisasi mungkin itu disalahkan karena sistem yang ada tidak berjalan, tapi menurut saya lain adanaya. Ketika kita masih seumur jagung dalam artian masih muda, tak apalah kita berjuang dengan mengkonsep dan terasa menjalankan ide kita sendiri, meskipun di rasa itu egosi mau dimana lagi kita tak mau memaksa orang lain untuk terus bekerja dengan organisasi kita.

Beberapa orang mengerti bahwa “kalau kita merawat organisasi kita, kita juga akan di rawat organisasi kita sendiri” maksudnya, kalau kita bisa belajar dengan susah payah di organisasi kita sekarang, kedepan banyak hal yang kita tidak akan tahu apa yang terjadi tentang diri kita dengan apa yang pernah kira hasilkan di organisasi.

Pada akhirnya jangan pernah bilang “jangan hidup di organisasi, tapi hidupilah organisasi”, suka duka yang ada di organisasi kita jalani tanpa sebuah keluhan dan paksaan, kalau yang ada paksaan apa lagi mengeluh kita tak dapat apa yang kita harapkankan, karena organisasi tempat kita belajar SOFT SKIIL, MANAJEMEN ORGANISASI, TIME WORK dan LEADHERSHIP.

Sadarilah di organisasi kita di tempa tanpa henti meskipun tanpa kita sadari, kedepan organisasi perlu orang-orang yang bermental baja dalam menumpuh tantangan yang lebih hebat lahir, perlu kedewasaan dalan berorganisasi. BBERANIKAH KITA ???.

Aku Menangis untuk Adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang
sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku
membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai
seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan
sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?"
Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk
berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas
ranjang batu bata kami dan memarahi,
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,
hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam
pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia
tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata,
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak
memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak
pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di
SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut,
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan
menghela nafas,
"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan
ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,
telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku
pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis
di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua
sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di
dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang membengkak, dan berkata,
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh
datang, adikku meninggalkan rumah dengan
beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang
yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping
ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya
akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat
tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17
tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun,
dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut
semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar
sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya,
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum,
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi
mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku
semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu
adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,
dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi
saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan
menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.
Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari
seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak
waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat
luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang
kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja
di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada
kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan
tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir
deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang
tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan,
sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu
harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan,
"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu
dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan
sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan
sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia
membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia
berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi
seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya,
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya
berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu
dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu
dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan
berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah,
tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima
kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan perayaan ini, air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"

HIDUP INI SINGKAT

Jika hari ini adalah hari terakhir anda di dunia
BAGAIMANA anda ingin dikenang?
Jika hari ini adalah hari terakhir anda didunia,
Apa kata-kata terakhir yang ingin anda dengar
Dari orang-orang yang mencintai anda?
Jika hari ini adalah hari terakhir anda di dunia, apakah
Anda sudah memberikan yang TERBAIK?
Jika hari ini adalah hari terakhir anda di dunia,
Apa yang anda tinggalkan?
Apakah anda layak sukses?
Apakah anda sudah berusaha yang terbaik?
Apakah anda membuat orang lain bangga?
Apakah anda meninggal seperti seorang PEJUANG?
…. Atau PECUNDANG?
Berapa jam sehari anda mengabdikan waktu anda untuk
Bertumbuh?
Berapa jam sehari waktu terbuang percuma?
Semoga masih ada hari esok!
Hidup ini pilihan! Mana yang anda pilih?
Hidup ini singkat, jadi………….

Perjalanan Pramukaku

Meskipun lebih dari setahun vakum dari dunia pramuka akhirnya bisa ikut dan menjadi anggota Racana Panglima Sudirman dan R.A. Kartini bertempat d UPN “VETERAN” Jawa Timur. Hal yang aku rasakan pertama kali saat masuk dewan Racana seperti menemukan kembali keluarga yang hilang. Meskipun aku tidak faham betul tentang dunia pramuka namun aku merasa nyaman dan merasa di besarkan di pramuka. Mungkin orang berpikiran bahwa pramuka itu cuma bertepuk tangan dan baris berbaris. Namun aku menemukan banyak sekali hal-hal baru, pengalaman, persaudaraan, gotong royang, hidup mandiri dan masih banyak lagi. Satu organisasi yang struktur organisasi dan pembinaan kepemudaan yang di susun dengan baik aku temukan di sini.

Waktu masih SD aku di ikutkan pramuka karena mau ada lomba tingkat kecamatan atau kabupaten (maaf lupa hehehehe). Waktu aku di tunjuk sebagai ketuanya. Sebelum lomba pasti ada latihan dan persiapan tentunya, sayang aku jarang ikut karena benturan dengan les pelajaran waktu itu. Yang terkesan waktu itu sih pensi menampilkan musik jaranan versi jalanan dan di dalam perkemahan ada seekor ular piton masuk dan membuat perkemahan jadi ribut semuanya. Ular itu sempat lama masuk tenda untungnya bukan tendaku yang di masukin tapi tenda depanku (Alhamdulillah). Namun kenangan yang paling tak terlupakan saat itu sekolahanku dapat juara 2 baik yang putra maupun putrinya (Alhamdulillah hehehe). Waktu aku masuk MTs pun juga banyak pengalaman. Waktu itu ektra pramuka di wajibkan untuk kelas 1, namun sampai akirnya ada seleksi alam hingga tinggal 7 orang. Waktu latihan mingguan aku selalu datang telat karena kalau tidak telat merasa tidak ada kepuasan, meskipun harus menerima hukuman dari kakak kelas ( biasanya pust up atau keliling lapangan). Di ujung kelas 1 ada kemah tingkat kabupaten tentang bahaya narkoba tiap kecamatan mengirim 2 regu putra putri untuk mewakili masing –masing polseknya. Tidak tau kenapa kok polsek puncu hanya mengantar dan menjemput kami tanpa mengurus dan menjenguk kondisi kami, Kami hanya d beri beras 1 karung dan mie 1 kerdus. Tenda kami paling kecil dan kebanjiran saat hari pertama, terpaksa deh harus mengungsi di panitia hahahaha. Kami hanya mengikuti kegiatan semampu kami kerena memang tanpa persiapan dan dukungan Pembina. Sehingga ada teman dekat aku setelah selesai acara kapok dan tidak mau ikut lagi yang namanya pramuka. Kegiatanya sebenarnya sangat seru karena bekerja sama dengan polres Kediri dan anak –anak saka bhayangkara. Ada out bond, keliling kampong dan hutan yang banyak halang rintangnya. Waktu kegiatan di jadwal 7 hari namun melihat keadaanya akhirnya di singkat menjadi 5 hari saja. Di ujung acara pasti ada pengumuman lomba Alhamdulillah kami dapat nomer 4 katanya.

Saat kelas 2 aku vakum dari pramuka karena aku di tarik oleh OSIS. Aku dari dulu bukan tipikal anak yang aktif tapi kok bisa terpilih menjadi wakil ketua OSIS. Ya tetap aku jalani, banyak kegiatan dan pengalaman di OSIS dan yang paling penting aku bisa dekat dengan guru-guru MTs yang sampai sekarang seperti orang tuaku. Di ujung kelas 3 baru aku di tarik lagi oleh Pembina pramuka untuk kembali ikut pramuka padahal aku tidak faham tentang materi pramuka. Waktu itu memang terjadi pergantian Pembina baru. Orangnya masih muda, semangat, berkemauan keras. Ya peran aku di situ jadi jembatan antara Pembina dengan adik – adik karena memang banyak hal yang belum cocok dengan kemauan Pembina tersebut. Sampai sekarang pun masih sering di ikutkan kegiatan saat ada perkemahan.

Kawanku yang menjadi lebih baik dan bangga adalah aku masih bisa merasakan apa yang dinamakan MENJADI PRAMUKA, meskipun dengan suasana yang berbeda dari saat aku ikut penggalang maupun penegak dan sekarang di racana, ini adalah saat-saat tantangan yang berbeda. Aku masih bisa bilang I’M PROUD TO BE SCOUT !!!.

SubuhMU yang Diam

Di SubuhMu Ya Rabb….
Aku melihat seseorang yang teramat dekat denganku
kecil hingga besar saat ini yang telah membimbingku
yang telah mengajarkanku kasih dan cinta yang tulus
yang telah mengenalkanku kerja keras dan tanggung jawab tanpa pamrih

Di SubuhMu Ya Rabb….
Ia terdiam dalam lamunan
melihat kedepan di tiang-tiang jendela
jauh ia menatap pandangannya

Entah… Entah… apa yang dilamunkan
tapi alunan suara Adzan SubuhMu menggiringinya
dalam rona wajahnya terbalut seribu perjuangan
terlihat semangat untuk berjuang demi keluarga

Indahnya SubuhMU YA RABB…
aku melihat cintanya untukku yang tak terganti
menggiringi kasihnya dalam perjuangan hidupku

Meskipn dalam SubuhMU yang DIAM
aku masih melihat rahasia dalam hatinya yang kuat.

Thank too Father…

ALLAH SELALU MEMILIKI JAWABAN YANG POSITIF

Hanya Ia sendiri yang selamat, ketika badai menghempaskan kapal itu. Hidupnya tergantung pada papan besar dan akhirnya Ia dihanyutkan oleh ombak dan terdampar disebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni.

Setiap hari Ia berdo’a kepada Allah supaya ada yang menyelamatkan dirinya dan dapat kembali pulang ke rumahnya. dan setiap hari pula Ia memandang ke laut, mengharapkan ada kapal yang lewat yang bisa menyelamatkan dirinya. Tetapi yang terlihat hanyalah laut dan langit saja dan apapun yang tidak terlihat lagi. Kemudian ia memutuskan untuk mempergunakan papan yang membawanya ke pulau itu dan membangun sebuah pondok kayu sederhana untuk melindunginya dari dalam lingkungan yang berbahaya ini untuk bisa bertahan hidup, dan untuk bisa menyimpan sedikit hartanya yang tersisa.

Suatu hari ketika ia pulang dari mencari makanan, ia melihat pondok kayunya terbakar, api sangat besar dan asap membumbung tinggi ke langit, dalam sekejab pondok kayunya itu pun habis terbakar. yang paling menyedihkan adalah sedikit hartanya juga turut terbakar habis menjadi abu. Dalam kesedihannya ia berteriak ke langit.”Ya Allah, kenapa Engkau melakukan ini semua kepadaku ?” Pada saat itu air matanya mengalir dengan deras.

Keesok harinya ia dibangunkan oleh deru mesin kapal yang mendarat ke pulau kecil itu, benar rupanya ada yang datang.
tapi dalam hatinya bertanya-tanya, ” Apa jangan2 mereka itu perompak !” Ya Allah, berilah hambamu pertolongan.
Ternyata dugaannya itu salah, dan benar ternyata orang yang datang itu menyelamatkannya. setelah naik ke kapal ia bertanya pada kapten kapal itu, ” kenapa kalian tahu saya berada ditempat ini ?” “Karena kami melihat sinyal asap minta pertolongan, jawab kapten kapal itu.”

@..@…@…@….

Dari cerita singkat diatas bisa kita ambil hikmah :
Bahwa ketika manusia menghadapi kesulitan itu mudah sekali tertekan , namun walaupun menghadapi kesulitan dan penderitaan yang sebesar apapun kita tidak boleh kehilangan Iman, karena Allah selalu ada di dalam hati kita melakukan hal-hal yang menakjubkan.

Dari Abul Abbas Abdullah bin abbas rodhiallahu ‘anhuma beliau berkata : Suatu hari aku berada di belakang Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam Beliau bersabda, “Nak, aku akan ajarkan padamu beberapa patah kata, “Jagalah Allah, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan , mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bila umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan padamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, Dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk menyelamatkanmu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering ( HR. Tirmidzi Dia berkata, Hadist ini hasan shohih )

Dalam sebuah riwayat selain Turmudzi dikatakan : “Jagalah Allah, niscaya engkau akan akan senantiasa mendapatiNya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang telah ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu. dan apa yang telah di tetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf atas segala kekurangan

>>>by : Ari Wahyu Nur Saputra<<<

The Young Spirit of Enterpreneurship PRAMUKA UPN “Veteran” Jatim

Dalam rangka HUT ke 20 Racana Panglima Sudirman dan RA. Kartini Pramuka Gudep Surabaya 08.1285-1286 Pangkalan UPN ”Veteran” Jawa Timur mengadakan kegiatan The Young Spirit of Enterpreneurship. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda selain Donor darah dan Outbound competition. Kegiatan yang bertempat di ruang Bromo Rektorat UPN ”veteran” Jatim tersebut dilaksanakan mulai tanggal 22 -24 April 2011 diikuti  sebanyak 39 orang anggota Pramuka penegak, pandega dan umum se-Jatim. Pelaksanaan kegiatan The Young Spirit of Enterpreneurship tersebut bertemakan ”I’m proud to be a scout” yang bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan berwirausaha untuk para anggota Pramuka dengan kreativitas dan motivasi yang tinggi sebagai generasi penerus masa depan.

Upacara pembukaan kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UPNV Jatim Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP yang didampingi para Wakil Rektor dan beberapa pejabat di lingkungan UPNV Jatim. Dalam amanatnya, Rektor berpesan agar para anggota Pramuka harus mempunyai pemikiran yang progresif dan kreativitas yang tidak hanya terampil dalam tali-menali, morse maupun smaphore, melainkan juga keterampilan berwirausaha sebagai bekal masa depannya kelak.  Lebih lanjut Rektor juga berpesan agar para generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh beragam perbedaan yang dapat menyulut perselisihan dan permusuhan khususnya sesama saudara sebagsa se-tanah air.(mirw@n_humasupnjatim)

Tantangan Pemimpin

“Ia yang disebut pemimpin bukanlah ia yang tunjuk tangan; Ia adalah seseorang yang tetap akan ditunjuk meski ia tersembunyi di bawah meja sekalipun.”


Memulai menjadi pemimpin adalah sebuah tantangan besar, antar pilihan yang memacu tekad untuk bertarung dengan memilih “tetap maju atau mundur”. Agaknya nilai bijak, etika, tanggung jawab dan komitmen harus di nilai, seberapa mampu menghadapi arah kedepannya, tantangan bukan hanya di nilai seberapa besar kita mampu menjalankan organisasi tapi seberapa hebat bisa mengendalikan diri kita untuk terus berkomitmen dengan visi yang ada dan sudah kita tentukan.

Definisi Pemimpin sendiri adalah seni mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama dari tingkat bawahan sampai atasan, untuk saling memberikan motivasi dan semangat dalam mencapai tujuan bersama dalam suatu organisasi atau kelompok. Seni memimpin terkadang jarang dimiliki orang, tapi melalui berani menerima menjadi seorang pemimpin kita lebih banyak akan belajar menjadi pemimpin, tapi perlu diingat belum tentu itu adalah pemimpin yang baik banyak yang harus kita hadapi dalam proses pendewasaan sebagai pemimpin, banyak masalah yang akan terjadi untuk membuat kita lebih dewasa memilih arah.

“Jangan takut memimpin dan dipimpin”

 

Dewasalah dalam memilih pilihanmu, kerendahan hatimu adalah mutiara yang mampu menjadikanmu penyelamat dalam mengarungi tantangan untunk menjadi pemimpin. Ketika kita sadar bahwa komitemn itu penting dan harus dijaga dalam memegang amanah haruskah kita selalu mempertanyakan apa yang akan diperbuat untuk organisasi??, rasanya banyak hal yang harus kita pelajari, tapi maukah engkau duduk untuk belajar kerendahan hati dan komitmen itu. Tantangan terbesarmu ada pada dirimu jangan kau ragu!!!.

Dalam Hening

Aku berjalan dalam hening

aku pun sedikit menemukan cahaya

aku bisa berbuat sesuka q dalam ruang yang di penuhi cahaya

aku bisa menikmati cerianya meskipun dalam remang

 

Aku terus masuk dalam hening yang sedikit cahaya

indah sekali…… sangat mengngagumkan

penuh kecerian dalam hening q

penuh inspirasi dalam sedikit cahaya

 

Aku pun berharap pada Tuhan……

Tuhan….. jangan padamkan api dalam heningku

Tuhan…. aq selalu berharap berikan selalu keceriaannya

Tuhan… sungguh aq tulus

tak akan ku pernah bisa melupakan keceriaannya

 

Tapi dalam hening ku

cahaya yang kulalui mulai goyah

mulai meninggalkan kecerian yang sesungguhnya

apa doa q tak kau gubris  Tuhan………..

 

Aku masih berharap dalam ruang itu

ruang yang di penuhi keceriaan

yang akan di penuhi suka cita

akan di berikan cahaya

meskipun hanya sesaat aku ada disana……….

 

To : saudari q…. aq masih berharap kepadamu dalam satu ruang untuk trus berharap, seperti halnya cahaya menerangi ruang yang gelap.  Semoga harapan mu dulu terwujud, meskipun hal terburuk nantikan terjadi.

Previous Older Entries